DAMPAK PERMAINAN KONSTRUKTIF TERHADAP PERKEMBANGAN KREATIVITAS
ANAK USIA 4-5 TAHUN
(Penelitian
Tindakan Kelas di RA .......................... Kecamatan ......................
Kabupaten .........................)
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
memperoleh gelar sarjana pendidikan
Oleh :
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
SEKOLAH TINGGI
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan
anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang
menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan
fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta,
kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku
serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan
yang dilalui oleh anak usia dini.
Anak
usia dini memiliki kemampuan belajar yang luar biasa terutama pada masa
kanak-kanak. Keingintahuan anak untuk belajar menjadikan anak kreatif dan
eksploratif. Anak belajar dengan seluruh panca inderanya untuk memahami sesuatu
dan dalam waktu yang singkat beralih ke hal lain untuk dipelajari.
Karakteristik anak usia dini menjadi hal yang penting untuk dipahami agar
memiliki generasi yang mampu mengembangkan diri secara optimal mengingat
pentingnya usia emas (the golden age) tersebut. Mengembangkan
kreativitas anak memerlukan peran penting pendidik. Anak creative memuaskan rasa keingintahuannya melalui berbagai cara
seperti bereksplorasi, bereksperimen, dan banyak mengajukan pertanyaan kepada
orang lain. Namun kenyataannya masih banyak anak-anak yang memiliki kreativitas
yang rendah. Keadaan tersebut disebabkan karena kurangnya pengembangan
kreativitas sejak usia dini.
Bermain
bagi anak usia dini dapat mempelajari dan belajar banyak hal, dapat mengenal
aturan, bersosialisasi, menempatkan diri, menata emosi, toleransi, kerja sama,
dan menjunjung tinggi sportivitas. Di samping itu, aktivitas bermain juga dapat
mengembangkan kecerdasan mental, spiritual, bahasa, dan keterampilan motorik
anak usia dini. Oleh karena itu, bagi anak usia dini tidak ada hari tanpa
bermain, dan bagi mereka bermain merupakan kegiatan pembelajaran yang sangat
penting. (H. E. Mulyasa, 2014: 166).
Bermain
sebagai pendekatan pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan perkembangan usia
dan kemampuan anak didik, yang secara berangsur-angsur perlu dikembangkan dari
bermain sambil belajar (unsur bermainnya lebih dominan) menjadi belajar sambil
bermain (unsur belajar lebih dominan). Dengan demikian, dalam bermain, harus
diperhatikan kematangan dan tahap perkembangan anak didik, alat bermain atau
alat bantu, metode yang digunakan, waktu dan tempat serta teman bermain.
Bermain
merupakan sebuah sarana yang dapat mengembangkan anak secara optimal. Bermain
dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak dan lewat bermain pula
didapat pengalaman yang penting bagi dunia anak. Hal inilah yang menjadi dasar
dari inti pembelajaran anak usia dini. Bermain secara langsung mempengaruhi
seluruh area perkembangan anak dengan memberikan kesempatan bagi anak untuk
belajar tentang dirinya, orang lain dan lingkungannya. Bermain juga memberikan
kebebasan anak-anak untuk berimajinasi, menggali potensi diri/bakat dan untuk
mengembangkan kreativitas.
Bermain
dapat dibedakan menjadi bermain dengan aturan dan bermain bebas atau tanpa
aturan. Bermain dengan aturan atau sering disebut dengan “permainan”. Tidak
jauh berbeda dengan bermain, permainan juga dapat mengembangkan seluruh aspek
perkembangan anak dan dapat meningkatkan daya cipta (kreativitas anak).
Salah
satu bentuk permainan yang dapat meningkatkan kreativitas anak adalah dengan
permainan konstruktif. Permainan konstruktif anak dapat mengembangkan
imajinasinya. Anak dapat membuat sesuatu menggunakan benda-benda seperti balok,
dan lego, sedangkan bentuk permainan konstruktif menggunakan bahan alam
misalnya pasir, play dough, dan cat.
Permainan
konstruktif sangat diperlukan pada masa anak. Hal ini dikarenakan pada masa
anak adalah masa dimana perkembangan sangat pesat, pesatnya seperti
perkembangan motorik halus anak. Untuk mengembangkan potensi kemampuan motorik
halus anak diperlukan kerjasama antara berbagai pihak, dan yang paling penting
pada saat masa anak anak adalah orang tua dan guru, kemampuan motorik halus
hanya bisa dikembangkan dengan latihan-latihan yang menuju ke arah
mengembangkan kemampuan anak. Hal ini memerlukan rangsangan yang optimal agar
perkembangan potensi kemampuan motorik halus anak bisa optimal.
Permainan
konstruktif tidak akan membuat anak merasa bosan karena dalam permainan
konstuktif yang dipentingkan adalah kesenangan. Anak-anak akan sangat sibuk
membuat hal baru seperti menggunakan balok-balok, lego, dan plastisin. Permainan konstruktif ini tidak akan
membuat anak menjadi malas, karena dalam bermain konstruktif anak akan terus
menggunakan daya imajinasinya untuk menghidupkan permainan ini dengan membuat
hal-hal yang baru dan unik.
Berdasarkan
pengamatan awal di kelompok A RA ........................ yang berjumlah 18 anak,
kreativitas anak masih perlu ditingkatkan. Dari jumlah siswa yang ada di dalam
kelas, terdapat 7 anak yang pada saat menyusun balok, anak-anak masih terlihat
menyusun balok belum sesuai dengan tempat yang disediakan. Kemudian pada saat
menyusun, anak-anak masih ada yang meniru milik temannya, dalam kegiatan
pembelajaran, anak-anak melakukan kegiatan masih mengikuti pada contoh guru.
Pada saat proses pembelajaran, guru menjelaskan masih menggunakan lembar kerja
anak (LKA) yang terlalu kecil yang kemungkinan membuat anak kesulitan dalam
berkonsentrasi dan kurang menarik bagi anak.
Berdasarkan
penjelasan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Dampak
Permainan Konstruktif Terhadap Perkembangan Kreativitas Anak Usia 4-5 Tahun di
RA ..............................”
1.2
Batasan
Masalah
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, penelitian ini
dibatasi pada perkembangan kreativitas anak melalui permainan konstruktif terbatas
pada permainan menyusun balok di ...................................
1.3
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah
diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.
Bagaimanakah perencanaan penerapan permainan
konstruktif dalam pembelajaran terhadap perkembangan kreativitas anak usia dini
di ...................................?
2.
Bagaimanakah proses bermain konstruktif dapat
meningkatkan perkembangan kreativitas anak usia dini di .........................................?
3.
Bagaimana dampak permainan konstruktif
terhadap perkembangan kreativitas anak usia dini usia 4-5 tahun di ..................................?
1.4
Tujuan
Penelitian
Sesuai
dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.
Untuk mengetahui penerapan permainan
konstruktif dalam pembelajaran terhadap perkembangan kreativitas anak usia dini
di RA.......................
2.
Untuk mengetahui peningkatan perkembangan
kreativitas anak usia dini melalui bermain konstruktif di RA .............................
3.
Untuk mengetahui dampak permainan
konstruktif terhadap perkembangan kreativitas anak usia dini usia 4-5 tahun di
RA ..............................
1.5
Manfaat
Penelitian
Penelitian
yang dilakukan akan diperoleh manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta dapat dijadikan bahan kajian bagi
para pembaca, khususnya untuk meningkatkan perkembangan intelektual anak
melalui permainan konstruktif.
2. Manfaat
Praktis
a. Bagi Anak
1) Meningkatkan
kreativitas dan bisa menjadikan segala sesuatu menjadi sebuah permainan ataupun
menjadikan kondisi lebih menarik dan menyenangkan bagi anak.
2) Memperoleh
pengalaman langsung mengenai permainan konstruktif
b. Bagi Guru
1) Sebagai masukan
dalam menggunakan media pembelajaran untuk meningkatkan kreativitas.
2) Meningkatkan
keterampilan guru dalam mengembangkan dan melaksanakan media pembelajaran yang
bervariasi.
c. Bagi Institusi
RA
Al-Hidayah Parigi dapat lebih meningkatkan kreativitas dalam mengembangkan alat
permainan edukatif sebagai pendukung dalam kegiatan pembelajaran.
1.6
Anggapan
Dasar
Bertitik
tolak dari teori kognitif maka lahirlah pandangan baru tentang teori belajar
yaitu konstruktif. Menurut para penganut konstruktif, pengetahuan dibina
secara aktif oleh seseorang yang berpikir. Seseorang tidak akan menyerap
pengetahuan dengan pasif. Untuk membangun suatu pengetahuan baru, peserta didik
akan menyesuaikan informasi baruatau pengetahuan yang disampaikan guru dengan
pengetahuan atau pengalaman yang telah dimilikinya melalui berinteraksi sosial
dengan peserta didik lain atau dengan gurunya.
Menurut Mayke S. Tedjasaputra (2001: 28) Bermain
konstruktif adalah kegiatan bermain di mana anak membentuk sesuatu, menciptakan
bangunan tertentu dengan alat permainan yang tersedia, seperti: membuat
rumah-rumahan menggunakan balok, menggambar, menyusun kepingan-kepingan kayu
bergambar, atau membuat bentuk menggunakan playdough.
Sedangkan menurut
Yamin (2013: 25) kontruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan
bagaimana pengetahuan disusun dalam diri manusia. Unsur-unsur konstruktivisme
telah lama dipraktekan dalam proses belajar dan pembelajaran baik di tingkat
sekolah dasar, menengah, maupun universitas, meskipun belum jelas terlihat.
Berdasarkan
faham konstruktivisme, dalam proses belajar mengajar, guru tidak serta merta
memindahkan pengetahuan kepada peserta didik dalam bentuk yang serba sempurna.
Dengan kata lain, peserta didik harus membangun suatu pengetahuan itu
berdasarkan pengalamannya masing-masing. Pembelajaran adalah hasil dari usaha
peserta didik itu sendiri dan guru tidak boleh belajar untuk peserta didik.
Pola pembinaan ilmu pengetahuan di sekolah merupakan suatu skema, yaitu
aktivitas mental yang digunakan oleh peserta didik sebagai bahan mentah bagi
proses renungan.
Pembelajaran
tidak akan berjalan baik, jika peserta didik tidak diberi kesempatan untuk
menyelesaikan masalah dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya. Pada akhir
proses pembelajaran, peserta didik harus bekerja sama dengan peserta didik yang
lain. Dalam pengelolaan suasana belajar guru harus mampu berkomunikasi secara
efektif dengan anak, sebab guru adalah seorang komunikator, karena guru akan
menyampaikan rencana-rencana pembelajarannya pada anak.
Konstruktivis:
(a) Belajar merupakan pembangunan pengetahuan berdasarkan pengalaman atau
pengetahuan yang telah ada sebelumnya, (b) Belajar merupakan penafsiran
seseorang tentang dunianya, (c) Belajar merupakan proses yang aktif dimana
pengetahuan dikembangkan berdasarkan pengalaman dan perundingan (negosiasi)
makna melalui berbagai informasi atau mencari kesepakatan dari berbagai
pandangan melalui interaksi atau kerja sama dengan orang lain.
Menurut
Piaget, perkembangan kognitif pada usia ini berada pada periode 4-5 tahun, yaitu tahapan dimana anak
belum mampu menguasai operasi mental secara logis. Yang dimaksud dengan operasi
adalah kegiatan-kegiatan yang diselesaikan secara mental bukan fisik. Periode
ini ditandai dengan berkembangnya representasional, atau “symbolic
function”, yaitu kemampuan menggunakan sesuatu untuk merepresentasikan
sesuatu yang lain dengan menggunakan simbol (kata-kata, bahasa gerak, dan
benda). Melalui kemampuan tersebut, anak mampu berimajinasi tentang berbagai
hal.
Balok
dianggap sebagai alat bermain yang paling bermanfaat dan yang paling banyak
digunakan di TK maupun lembaga pendidikan pra sekolah. Nilai dari membangun
dengan balok meliputi 4 aspek pengembangan yaitu : Fisik Motorik, Perkembangan
Kognitif, Perkembangan Sosial, Perkembangan Emosional.
Menurut B.E.F
Montolalu (2005: 6.22) mengemukakakan bahwa : Balok mempunyai tempat dihati
anak serta menjadi pilihan favorit sepanjang tahun, bahkan sampai tahun ajaran
berakhir. Ketika bermain balok banyak temuan-temuan terjadi. Demikian pula
pemecahan masalah terjadi secara ilmiah. Bentuk konstruksi mereka dari yang
sederhana sampai yang rumit dapat menunjukkan adanya penigkatan pengembangan
berpikir mereka.
1.7
Hipotesis
Tindakan
Hipotesis adalah
suatu pernyataan yang masih lemah yang membutuhkan pembuktian untuk menegaskan
apakah hipotesis dapat diterima atau ditolak, bedasarkan fakta atau data
empiris yang telah dikumpulkan dalam penelitian (Hidayat, 2010: 24). Hipotesis
dalam penelitian ini adalah : Ada pengaruh permainan konstruktif menyusun balok
terhadap perkembangan kreativitas pada anak usia dini 4-5 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar