Kamis, 03 Maret 2016

PTK PAUD



DAMPAK PERMAINAN KONSTRUKTIF  TERHADAP PERKEMBANGAN KREATIVITAS
ANAK USIA 4-5 TAHUN
(Penelitian Tindakan Kelas di RA .......................... Kecamatan ......................
Kabupaten .........................)


SKRIPSI


Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
memperoleh gelar sarjana pendidikan



Oleh :






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN





BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang Masalah
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Anak usia dini memiliki kemampuan belajar yang luar biasa terutama pada masa kanak-kanak. Keingintahuan anak untuk belajar menjadikan anak kreatif dan eksploratif. Anak belajar dengan seluruh panca inderanya untuk memahami sesuatu dan dalam waktu yang singkat beralih ke hal lain untuk dipelajari. Karakteristik anak usia dini menjadi hal yang penting untuk dipahami agar memiliki generasi yang mampu mengembangkan diri secara optimal mengingat pentingnya usia emas (the golden age) tersebut. Mengembangkan kreativitas anak memerlukan peran penting pendidik. Anak creative memuaskan rasa keingintahuannya melalui berbagai cara seperti bereksplorasi, bereksperimen, dan banyak mengajukan pertanyaan kepada orang lain. Namun kenyataannya masih banyak anak-anak yang memiliki kreativitas yang rendah. Keadaan tersebut disebabkan karena kurangnya pengembangan kreativitas sejak usia dini.
Bermain bagi anak usia dini dapat mempelajari dan belajar banyak hal, dapat mengenal aturan, bersosialisasi, menempatkan diri, menata emosi, toleransi, kerja sama, dan menjunjung tinggi sportivitas. Di samping itu, aktivitas bermain juga dapat mengembangkan kecerdasan mental, spiritual, bahasa, dan keterampilan motorik anak usia dini. Oleh karena itu, bagi anak usia dini tidak ada hari tanpa bermain, dan bagi mereka bermain merupakan kegiatan pembelajaran yang sangat penting. (H. E. Mulyasa, 2014: 166).
Bermain sebagai pendekatan pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan perkembangan usia dan kemampuan anak didik, yang secara berangsur-angsur perlu dikembangkan dari bermain sambil belajar (unsur bermainnya lebih dominan) menjadi belajar sambil bermain (unsur belajar lebih dominan). Dengan demikian, dalam bermain, harus diperhatikan kematangan dan tahap perkembangan anak didik, alat bermain atau alat bantu, metode yang digunakan, waktu dan tempat serta teman bermain.
Bermain merupakan sebuah sarana yang dapat mengembangkan anak secara optimal. Bermain dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak dan lewat bermain pula didapat pengalaman yang penting bagi dunia anak. Hal inilah yang menjadi dasar dari inti pembelajaran anak usia dini. Bermain secara langsung mempengaruhi seluruh area perkembangan anak dengan memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar tentang dirinya, orang lain dan lingkungannya. Bermain juga memberikan kebebasan anak-anak untuk berimajinasi, menggali potensi diri/bakat dan untuk mengembangkan kreativitas.
Bermain dapat dibedakan menjadi bermain dengan aturan dan bermain bebas atau tanpa aturan. Bermain dengan aturan atau sering disebut dengan “permainan”. Tidak jauh berbeda dengan bermain, permainan juga dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak dan dapat meningkatkan daya cipta (kreativitas anak).
Salah satu bentuk permainan yang dapat meningkatkan kreativitas anak adalah dengan permainan konstruktif. Permainan konstruktif anak dapat mengembangkan imajinasinya. Anak dapat membuat sesuatu menggunakan benda-benda seperti balok, dan lego, sedangkan bentuk permainan konstruktif menggunakan bahan alam misalnya pasir, play dough, dan cat.
Permainan konstruktif sangat diperlukan pada masa anak. Hal ini dikarenakan pada masa anak adalah masa dimana perkembangan sangat pesat, pesatnya seperti perkembangan motorik halus anak. Untuk mengembangkan potensi kemampuan motorik halus anak diperlukan kerjasama antara berbagai pihak, dan yang paling penting pada saat masa anak anak adalah orang tua dan guru, kemampuan motorik halus hanya bisa dikembangkan dengan latihan-latihan yang menuju ke arah mengembangkan kemampuan anak. Hal ini memerlukan rangsangan yang optimal agar perkembangan potensi kemampuan motorik halus anak bisa optimal.
Permainan konstruktif tidak akan membuat anak merasa bosan karena dalam permainan konstuktif yang dipentingkan adalah kesenangan. Anak-anak akan sangat sibuk membuat hal baru seperti menggunakan balok-balok, lego, dan plastisin. Permainan konstruktif ini tidak akan membuat anak menjadi malas, karena dalam bermain konstruktif anak akan terus menggunakan daya imajinasinya untuk menghidupkan permainan ini dengan membuat hal-hal yang baru dan unik.
Berdasarkan pengamatan awal di kelompok A RA ........................ yang berjumlah 18 anak, kreativitas anak masih perlu ditingkatkan. Dari jumlah siswa yang ada di dalam kelas, terdapat 7 anak yang pada saat menyusun balok, anak-anak masih terlihat menyusun balok belum sesuai dengan tempat yang disediakan. Kemudian pada saat menyusun, anak-anak masih ada yang meniru milik temannya, dalam kegiatan pembelajaran, anak-anak melakukan kegiatan masih mengikuti pada contoh guru. Pada saat proses pembelajaran, guru menjelaskan masih menggunakan lembar kerja anak (LKA) yang terlalu kecil yang kemungkinan membuat anak kesulitan dalam berkonsentrasi dan kurang menarik bagi anak.
Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Dampak Permainan Konstruktif Terhadap Perkembangan Kreativitas Anak Usia 4-5 Tahun di RA ..............................”

1.2         Batasan Masalah
     Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, penelitian ini dibatasi pada perkembangan kreativitas anak melalui permainan konstruktif terbatas pada permainan menyusun balok di ...................................

1.3         Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.        Bagaimanakah perencanaan penerapan permainan konstruktif dalam pembelajaran terhadap perkembangan kreativitas anak usia dini di ...................................?
2.        Bagaimanakah proses bermain konstruktif dapat meningkatkan perkembangan kreativitas anak usia dini di .........................................?
3.        Bagaimana dampak permainan konstruktif terhadap perkembangan kreativitas anak usia dini usia 4-5 tahun di ..................................?

1.4         Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.        Untuk mengetahui penerapan permainan konstruktif dalam pembelajaran terhadap perkembangan kreativitas anak usia dini di RA.......................
2.        Untuk mengetahui peningkatan perkembangan kreativitas anak usia dini melalui bermain konstruktif di RA .............................
3.        Untuk mengetahui dampak permainan konstruktif terhadap perkembangan kreativitas anak usia dini usia 4-5 tahun di RA ..............................
                       
1.5         Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan akan diperoleh manfaat sebagai berikut:
1.    Manfaat Teoritis
     Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta dapat dijadikan bahan kajian bagi para pembaca, khususnya untuk meningkatkan perkembangan intelektual anak melalui permainan konstruktif.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Anak
1)    Meningkatkan kreativitas dan bisa menjadikan segala sesuatu menjadi sebuah permainan ataupun menjadikan kondisi lebih menarik dan menyenangkan bagi anak.
2)    Memperoleh pengalaman langsung mengenai permainan konstruktif
b. Bagi Guru
1)    Sebagai masukan dalam menggunakan media pembelajaran untuk meningkatkan kreativitas.
2)    Meningkatkan keterampilan guru dalam mengembangkan dan melaksanakan media pembelajaran yang bervariasi.
c. Bagi Institusi
RA Al-Hidayah Parigi dapat lebih meningkatkan kreativitas dalam mengembangkan alat permainan edukatif sebagai pendukung dalam kegiatan pembelajaran.

1.6         Anggapan Dasar
Bertitik tolak dari teori kognitif maka lahirlah pandangan baru tentang teori belajar yaitu konstruktif. Menurut para penganut konstruktif, penge­tahuan dibina secara aktif oleh seseorang yang berpikir. Seseorang tidak akan menyerap pengetahuan dengan pasif. Untuk membangun suatu pengetahuan baru, peserta didik akan menyesuaikan informasi baruatau pengetahuan yang disampaikan guru dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimilikinya melalui berinteraksi sosial dengan peserta didik lain atau dengan gurunya.
Menurut Mayke S. Tedjasaputra (2001: 28) Bermain konstruktif adalah kegiatan bermain di mana anak membentuk sesuatu, menciptakan bangunan tertentu dengan alat permainan yang tersedia, seperti: membuat rumah-rumahan menggunakan balok, menggambar, menyusun kepingan-kepingan kayu bergambar, atau membuat bentuk menggunakan playdough.

Sedangkan menurut Yamin (2013: 25) kontruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam diri manusia. Unsur-unsur konstruktivisme telah lama dipraktekan dalam proses belajar dan pembelajaran baik di tingkat sekolah dasar, menengah, maupun universitas, meskipun belum jelas terlihat.

Berdasarkan faham konstruktivisme, dalam proses belajar mengajar, guru tidak serta merta memindahkan pengetahuan kepada peserta didik dalam bentuk yang serba sempurna. Dengan kata lain, peserta didik harus membangun suatu pengetahuan itu berdasarkan pengalamannya masing-masing. Pembelajaran adalah hasil dari usaha peserta didik itu sendiri dan guru tidak boleh belajar untuk peserta didik. Pola pembinaan ilmu pengetahuan di sekolah merupakan suatu skema, yaitu aktivitas mental yang digunakan oleh peserta didik sebagai bahan mentah bagi proses renungan.
Pembelajaran tidak akan berjalan baik, jika peserta didik tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya. Pada akhir proses pembelajaran, peserta didik harus bekerja sama dengan peserta didik yang lain. Dalam pengelolaan suasana belajar guru harus mampu berkomunikasi secara efektif dengan anak, sebab guru adalah seorang komunikator, karena guru akan menyampaikan rencana-rencana pembelajarannya pada anak.
Konstruktivis: (a) Belajar merupakan pembangunan pengetahuan berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya, (b) Belajar merupakan penafsiran seseorang tentang dunianya, (c) Belajar merupakan proses yang aktif dimana pengetahuan dikembangkan berdasarkan pengalaman dan perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau mencari kesepakatan dari berbagai pandangan melalui interaksi atau kerja sama dengan orang lain.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif pada usia ini berada pada periode 4-5 tahun, yaitu tahapan dimana anak belum mampu menguasai operasi mental secara logis. Yang dimaksud dengan operasi adalah kegiatan-kegiatan yang diselesaikan secara mental bukan fisik. Periode ini ditandai dengan berkembangnya representasional, atau “symbolic function”, yaitu kemampuan menggunakan sesuatu untuk merepresentasikan sesuatu yang lain dengan menggunakan simbol (kata-kata, bahasa gerak, dan benda). Melalui kemampuan tersebut, anak mampu berimajinasi tentang berbagai hal.
Balok dianggap sebagai alat bermain yang paling bermanfaat dan yang paling banyak digunakan di TK maupun lembaga pendidikan pra sekolah. Nilai dari membangun dengan balok meliputi 4 aspek pengembangan yaitu : Fisik Motorik, Perkembangan Kognitif, Perkembangan Sosial, Perkembangan Emosional.
Menurut B.E.F Montolalu (2005: 6.22) mengemukakakan bahwa : Balok mempunyai tempat dihati anak serta menjadi pilihan favorit sepanjang tahun, bahkan sampai tahun ajaran berakhir. Ketika bermain balok banyak temuan-temuan terjadi. Demikian pula pemecahan masalah terjadi secara ilmiah. Bentuk konstruksi mereka dari yang sederhana sampai yang rumit dapat menunjukkan adanya penigkatan pengembangan berpikir mereka.

1.7         Hipotesis Tindakan
Hipotesis adalah suatu pernyataan yang masih lemah yang membutuhkan pembuktian untuk menegaskan apakah hipotesis dapat diterima atau ditolak, bedasarkan fakta atau data empiris yang telah dikumpulkan dalam penelitian (Hidayat, 2010: 24). Hipotesis dalam penelitian ini adalah : Ada pengaruh permainan konstruktif menyusun balok terhadap perkembangan kreativitas pada anak usia dini 4-5 tahun.













































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar